Kamis, 10 Mei 2012

Lanius Schach , Java White Crowned Shrike


Spesies burung ini termasuk dalam family Laniidae, genre Lanius, masih serumpun dengan Lanius Schach (Long Tailed Shrikes). Ditemukan di Indonesia dengan daerah persebaran meliputi Jawa Timur dan Madura. Masyarakat lokal menyebutnya Cendet/Pentet Blorok.
Sebutan demikian terkait dengan warna bulu burung tersebut yang didominasi oleh warna putih pada kepala bagian atas hingga menutup punggung. Bagian bawah paruh, dada dan abdomen bawah juga tertutup warna putih kecoklatan. Warna bulu pada garis mata yang menjadi ciri khas burung ini juga akan berubah menjadi merah kecoklatan ketika berusia dewasa. Berbeda dengan jenis Cendet/Pentet pada umumnya yang biasa berwarna hitam pekat untuk jenis kelamin jantan atau hitam pudar untuk jenis kelamin betina.
Anatomi dan tingkah laku spesies ini tidak berbeda dengan Lanius Schach yang tersebar di Indonesia pada umumnya. Sebagai burung predator yang cerdas dengan kelebihan menirukan suara burung atau binatang lain yang biasanya dijadikan sebagai mangsa. Ukuran tubuh juga sama dengan Cendet/Pentet Merah dari Madura.
Menonjolnya warna putih pada burung ini tidak disebabkan oleh faktor kelainan gen (seperti jenis "Albino") namun masih belum ada penelitian yang dapat membuktikan hipotesa tersebut dapat dikatakan benar. Dari Ensiklopedi pembagian taksonomi/ordo dari spesies ini di dunia juga belum diketemukan deskripsi pada spesies Lanius yang berbeda ini. Mungkin belum bisa dikategorikan sebagai spesies baru dalam animal kingdom namun penelitian dan pembuktian keberadaan burung ini dapat membantu menjaga kelestarian dan kelangsungan hidupnya.
Konon dari beberapa keterangan yang diperoleh langsung dari pedagang burung di beberapa kota di Jawa Timur mengatakan bahwa burung ini mulai sulit ditemukan di habitatnya. Sudah jarang sekali ditemukan di pasar burung yang masih ada pedagang yang memperjual-belikan burung ini. Akan sangat memprihatinkan jika memang benar populasinya sangat sedikit namun masih saja diperjual-belikan dengan bebas yang diperoleh dari hasil tangkapan hutan.
Kenyataannya dibeberapa kota seperti Tuban, Lamongan, Bojonegoro dan beberapa kota di Madura yang dikenal oleh para penghobi di tanah air sebagai sentral Cendet/Pentet kualitas lomba, ternyata belum ada yang pernah melakukan penangkaran burung ini. Sehingga semua burung Cendet/Pentet Blorok yang masih diperjual-belikan murni dari hasil tangkapan hutan. Mungkin berbeda halnya jika para penangkar burung di tanah air dapat berupaya dengan mencoba menangkarkan burung ini sehingga dapat mempengaruhi populasinya secara signifikan ke arah yang lebih baik.
Sangat diharapkan kepada para pihak terkait, pemerhati, penghobi dan pecinta burung di tanah air untuk dapat mengupayakan campur tangan positif demi kelangsungan hidup spesies yang mulai langka ini. Adanya penelitian secara resmi mungkin dapat membuktikan dan menyatakan pada masyarakat global bahwa burung ini sebagai spesies endemik dari Indonesia dengan sebutan Java White Crowned Shrike.
(heri he)

Sabtu, 31 Maret 2012

kookaburra

Kookaburras (genus Dacelo) are terrestrial kingfishers native to Australia and New Guinea. They are large to very large, with a total length of 28–42 cm (11–17 in). The name is a loanword from Wiradjuri guuguubarra, and is onomatopoeic of its call. The single member of the genus Clytoceyx, though commonly referred to as the Shovel-billed Kookaburra, is not treated in this article.
Kookaburras are best known for their unmistakable call, which sounds uncannily like loud, echoing human laughter – good-natured, but rather hysterical, merriment in the case of the renowned Laughing Kookaburra (Dacelo novaeguineae); and maniacal cackling in the case of the slightly smaller Blue-winged Kookaburra (D. leachii). They are generally not closely associated with water, and can be found in habitats ranging from humid forest to arid savanna, but also in suburban and residential areas near running water and where food can be searched for easily.